At-Tathoyyur adalah merasa akan bernasib sial karena melihat atau mendengar kejadian tertentu, seperti melihat tabrakan, atau orang berkelahi, atau yang semisalnya, kemudian hal tersebut menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya seperti bepergian, berdagang dan lain-lain. tidak diketahui.svg At-Tathoyyur termasuk syirik kecil apabila perasaan tersebut di ikuti. Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ “Barangsiapa yang At-Tathoyyur menyebabkan dia tidak jadi melaksanakan hajatnya maka dia telah berbuat syirik” (HR. Ahmad dan dishahihkan Syeikh Al Albâni rahimahullâh) Perasaan ini sebenarnya tidak akan mempengaruhi takdir, sebagaimana hal ini dinafikan dan di ingkari oleh Rasûlullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : … وَلاَ طِيَرَةَ … “… tidak ada thiyarah …” (HR.Al Bukhâri dan Muslim) tidak diketahui.svg Maksudnya ...
Pemateri: Ustadz Dr. Abdullah Roy, MA Berdoa kepada selain Allah adalah syirik besar. Berdoa kepada Allah adalah seseorang menghadap Allah dengan maksud supaya Allah mewujudkan keinginannya baik dengan meminta atau merendahkan diri mengharap dan takut kepada Allah. Berdoa dengan makna diatas adalah diatas. Dari Nu'man bin Basyir bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Artinya : Doa adalah ibadah", kemudian beliau membaca ayat : "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu". [Ghafir : 60]. Makna ibadah kepadaku adalah berdoa kepadaku. Apabila doa adalah ibadah yang merupakan hak Allah. Maka berdoa selain Allah dengan merendahkan diri dihadapannya mengharap dan takut kepadanya sebagaimana dia mengharap dan takut kepada Allah adalah syirik besar. Termasuk doa istighasah yaitu meminta dilepaskan dari kesusahan. Isti’adah meminta perlindungan dan Isti’alah meminta pertolongan. Apabila didalamnya merendah diri, pengha...
Halaqah yang ke-2 dari Silsilah Ilmiyyah Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah tentang “Mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala Sebagai Pencipta”. Allāh Subhānahu wa Ta’āla adalah Dzat Yang Maha Pencipta, menciptakan dari sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Dialah Allāh yang telah menciptakan langit, menciptakan bumi, manusia, dan seluruh alam semesta. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman : ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ “Itu adalah Allāh Rabb kalian yang telah menciptakan segala sesuatu.” (QS Ghāfir: 62) Dialah Allāh, Al-Khāliq Yang Maha Pencipta, sedangkan selain Allah adalah makhluq yang diciptakan. Mereka tidak bisa mencipta meskipun diagung-agungkan dan disembah oleh manusia. Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman : يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ الله لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ. “Wahai manusia, telah dibuat perumpamaan bagi kalian maka hendaklah kalian mendengarnya. Sesungguhny...
Komentar
Posting Komentar